Kolaborasi Nonahelix: Fondasi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Pengelolaan sampah berkelanjutan tidak dapat dibangun dengan pendekatan sektoral dan parsial. Selama ini, banyak kebijakan dan program berjalan sendiri-sendiri—paralel, namun tidak saling menguatkan. Akibatnya, upaya pengurangan, pengolahan, dan pemanfaatan sampah sering terhenti pada capaian teknis jangka pendek, tanpa membentuk sistem yang hidup dan berkelanjutan.
Berangkat dari refleksi tersebut, Sangkar Wiku Tumuwuh memperkenalkan Kolaborasi Nonahelix sebagai kerangka strategis pengelolaan sampah berbasis ekosistem. Pendekatan ini menempatkan pengelolaan sampah sebagai kerja bersama lintas sektor, lintas kepentingan, dan lintas nilai—bukan sekadar urusan teknis atau administratif.
Dari Pentahelix ke Nonahelix: Memperluas Ruang Kolaborasi
Kolaborasi Nonahelix merupakan pengembangan dari konsep pentahelix yang selama ini digunakan dalam kebijakan publik. Jika pentahelix menekankan lima aktor utama, Nonahelix memperluasnya menjadi sembilan simpul strategis yang saling berinteraksi dalam satu ekosistem perubahan.
Sembilan simpul tersebut meliputi:
1. Pemerintah pusat dan daerah sebagai penyusun kebijakan, regulator, serta fasilitator koordinasi lintas sektor.
2. Akademisi sebagai penghasil riset, data, dan inovasi kebijakan berbasis bukti ilmiah.
3. Dunia usaha dan industri sebagai penggerak investasi, adopsi teknologi, serta penerapan *Extended Producer Responsibility* (EPR).
4. Komunitas dan sektor informal—pemulung, pengepul, komunitas lingkungan—sebagai motor sosial dan ekonomi sirkular di tingkat akar rumput.
5. Media sebagai penggerak narasi publik, edukasi lingkungan, dan pengawasan sosial.
6. Lembaga keuangan dan investor sosial sebagai penyedia pembiayaan hijau melalui green finance dan impact investment.
7. Lembaga adat dan budaya sebagai penjaga nilai lokal yang menanamkan kesadaran ekologis melalui tradisi dan kearifan setempat.
8. Inovator teknologi dan startup sebagai pencipta solusi digital, bioteknologi, dan sistem pemantauan berbasis data.
9. Filantropi dan organisasi sosial sebagai pendukung inisiatif akar rumput dan penghubung antar sektor.
Melalui sembilan simpul ini, pengelolaan sampah bertransformasi dari rantai birokrasi menjadi jaringan kolaboratif yang hidup, adaptif, dan saling bergantung.
Prinsip Kerja Kolaborasi Nonahelix
Agar kolaborasi tidak berhenti pada forum dan wacana, Sangkar Wiku Tumuwuh merumuskan tiga prinsip kerja utama:
Koherensi kebijakan dan aksi. Setiap program dan inisiatif daerah harus terhubung dengan kerangka nasional, namun tetap adaptif terhadap konteks lokal.
Keterbukaan dan pembelajaran bersama. Data, inovasi, dan praktik baik dibagikan lintas sektor untuk mencegah duplikasi dan mempercepat pembelajaran kolektif.
Manfaat bersama (shared value). Setiap aktor memperoleh nilai nyata—ekonomi, sosial, maupun reputasi—sehingga kolaborasi memiliki insentif keberlanjutan.
Strategi Operasional Kolaborasi
Untuk mengoperasionalkan kerangka Nonahelix, Sangkar Wiku Tumuwuh mendorong empat langkah strategis:
1. Forum Kolaborasi Ekologi Hidup
Pembentukan Forum Kolaborasi Ekologi Hidup (FKEH) di tingkat kabupaten/kota sebagai ruang koordinasi permanen lintas sektor, pusat dialog kebijakan, dan think-tank daerah.
2. Sistem Data dan Jejaring Digital Bersama
Pengembangan platform digital yang menghubungkan pemerintah, komunitas, dan sektor usaha dalam mendokumentasikan alur sampah—mulai dari sumber, pengolahan, hingga dampak ekonomi dan sosial.
3. Proyek Percontohan Berbasis Kolaborasi
Pengembangan Kampung Sirkular sebagai living lab, tempat seluruh aktor Nonahelix berinteraksi secara nyata dalam praktik pengelolaan sampah terpadu.
4. Skema Pembiayaan Kolaboratif
Penerapan blended finance yang menggabungkan APBD, investasi swasta, dana filantropi, dan pembiayaan berdampak, sehingga proyek kolaboratif dapat berkelanjutan.
Memperkuat Simpul Kunci: Komunitas dan Sektor Informal
Dalam kerangka Nonahelix, komunitas dan sektor informal bukan pelengkap, melainkan simpul kunci. Pemulung, pengepul, dan pelaku daur ulang kecil telah lama menjadi tulang punggung ekonomi sirkular.
Sangkar Wiku Tumuwuh mendorong:
* Legalisasi dan perlindungan sosial sektor informal.
* Penguatan koperasi dan jejaring usaha daur ulang.
* Akses teknologi dan sistem digital pemasaran material daur ulang.
Pendekatan ini memastikan kolaborasi berjalan inklusif dan berkeadilan.
Dampak Kolaborasi Nonahelix
Penerapan Kolaborasi Nonahelix diharapkan menghasilkan:
* Keterpaduan kebijakan lintas sektor dan lintas level pemerintahan.
* Efisiensi dan transparansi pengelolaan sampah berbasis data bersama.
* Peningkatan partisipasi masyarakat dan sektor informal.
* Pertumbuhan ekonomi hijau daerah melalui penciptaan lapangan kerja sirkular.
Peran Sangkar Wiku Tumuwuh
Sangkar Wiku Tumuwuh memposisikan diri sebagai inisiator, penghubung, dan penjaga ekosistem kolaborasi. Kami hadir untuk memastikan bahwa Kolaborasi Nonahelix tidak berhenti sebagai konsep, tetapi tumbuh menjadi praktik kebijakan dan gerakan sosial di tingkat lokal maupun nasional.
Melalui riset kebijakan, fasilitasi forum kolaborasi, pengembangan proyek percontohan, dan pendidikan ekologis, Sangkar Wiku Tumuwuh berkomitmen membangun sistem pengelolaan sampah yang kolaboratif, manusiawi, dan berkelanjutan.
Kolaborasi Nonahelix adalah fondasi menuju masa depan pengelolaan sampah Indonesia—di mana kebijakan berpihak pada nilai, teknologi berpihak pada manusia, dan kolaborasi berpihak pada kehidupan.
